Thursday, March 29, 2007

Gerakan Mahasiswa

Proses pembentukan karakter seseorang berlangsung secara terus-menerus semenjak dia lahir. Dengan mendapatkan pendidikan secara formal maupun mengalami pembelajaran dengan berbagai pengalaman akan sangat mempengaruhi pola pikirnya. Semakin dewasa, manusia akan selalu mendapat cobaan yang lebih berat lagi. Dari berbagai permasalahan tersebut, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang baik hanya bisa dirasakan tak lebih dari 2% jumlah penduduk di negara ini.

Mahasiswa ITB sebagai salah satu elemen masyarakat dengan predikat intelektual yang disandangnya, mempunyai tanggung jawab moral untuk membela kepentingan masyarakat luas daripada kepentingan sekelompok individualis. Sering kita mendengar pendapat yang bermacam-macam dari masyarakat “Udah, mahasiswa kerjanya jangan demo mulu, belajar aja yang bener. Abis itu baru benerin masalah yang ada..” atau “Koq sekarang anak-anak ITB ga pernah bersuara lagi?” dan masih banyak pendapat lain yang melihat pergerakan mahasiswa dari sisi yang berbeda-beda.

Sebenarnya, definisi gerakan mahasiswa itu apa sih? Apakah selalu dengan cara turun ke jalan, bikin macet, dan berkoar-koar sampai suara habis? Emang ada ngaruhnya gitu? Tetep aja harga BBM naik, tetep aja TDL naik, tetep aja pemerintah masukin beras impor. Atau sekarang mending kita diem-dieman aja di dalam kampus? Yah...rapat-rapat biasa aja...lobby sana, lobby sini, bikin seminar, dll.

Menurut salah seorang teman aktivis ITB angkatan 97, semua itu hanya merupakan masalah metoda. Artinya, dilihat sejauh mana kebutuhan untuk turun ke jalan tersebut. Dengan predikat ‘intelektual’ yang melekat pada mahasiswa, apalagi yang dari ITB, seharusnya kita bisa lebih pintar dalam menanggapi suatu permasalahan yang terjadi di masyarakat. Mungkin kita sering lupa bahwa dengan mudahnya kita bisa berinteraksi dengan para pengambil keputusan di negara ini. Ada ga yang pernah kepikiran buat nelpon langsung ke kantor Menteri Pertanian, trus bikin janji ketemuan sama pak menteri mengenai masalah impor beras. Atau ngobrol bareng sama anggota DPR yang selalu kita cibir kerjanya itu? Ternyata mereka juga butuh masukan dan saran dari kita koq. Karena mereka masih menganggap mahasiswa sebagai satu elemen masyarakat yang dapat berperan netral dalam setiap masalah. Karena mereka butuh banget orang yang menilai dan merespon kebijakan yang mereka buat apakah dapat diterima semua kalangan atau tidak.

Dari berbagai kemampuan dan kapabilitas kita sebagai mahasiswa yang dapat berbuat banyak itu, sekarang kita tanya kepada diri sendiri, apakah kita mau terlibat? Apakah kita mau ngurusin masalah bangsa yang sepertinya sudah bobrok di semua bidang? Dapat diperkirakan jawaban yang muncul sebagian besar adalah enggan dan tidak mau terlibat dalam dunia kemahasiswaan. Istilah ‘kemahasiswaan’ ini selalu dipandang sempit oleh mahasiswa yang berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan sikap politis dan ‘bahasa-bahasa langit’ (red-bahasa yang berat). Tetapi sebenarnya sangat melekat dengan keseharian kita di kampus. Kita kuliah juga termasuk bidang kemahasiswaan, praktikum, rapat, bikin lomba foto, try out,dll juga ada dalam definisi tersebut.

Jadi memang seharusnya kita terlibat dalam dunia kemahasiswaan. Sekarang mari kita bercermin pada kegiatan yang ada di kampus sekarang. Mayoritas acara yang dimotori oleh himpunan dan unit mempunyai sifat internal kampus, misal, tanding bola bareng, fun day, diklat ini, diklat itu, seminar, temu alumni, dll. Bukan maksud penulis untuk menyindir, tapi persentase jenis kegiatan yang ditujukan bagi kemampuan mahasiswa dalam berinteraksi dengan masyarakat dan terjun langsung di lapangan perbandingannya jauh. Ok, sekarang baru terasa aura dari organisasi-organisasi tersebut yang mulai melakukan sesuatu di masyarakat. Penulis salut dengan inisiasi perubahan sistem kaderisasi yang dilakukan beberapa himpunan yang bertujuan pada pengabdian masyarakat, atau program Kabinet KM dengan gerakan MADES-nya (mahasiswa dan desa).

Niat-niat baik itu yang belum menyebar ke semua elemen kampus merupakan salah satu tugas yang harus kita lakukan bersama. Karena keinginan untuk dapat berguna bagi masyarakat pasti ada dalam setiap hati kecil mahasiswa, hanya kendala informasi dan kesempatan. Satu hal yang hampir kita lupakan untuk memulainya adalah sikap kritis. Dimana kita harus bereaksi ketika ada peristiwa yang merugikan masyarakat, ketika rakyat sudah tidak berharga lagi di dalam pikiran para penguasa negeri ini, ketika ada pemerkosaan terhadap kebebasan berpendapat, ketika makna hidup seakan hancur di depan mata,...kita harus memperjuangkannya!! kita harus bereaksi!! (@Le dong..!!)

Four Different Minds...

Suatu sore di tahun 2005 pada waktu liburan semester 4, saya berniat untuk menjalin kembali persahabatan saya yang sempat putus dengan teman SMA. Kebetulan Indra yang kuliah di jurusan Sipil UGM sedang ada di Jakarta selama beberapa hari. Itu juga tahunya dari Gogon, anak Biokimia IPB. Gw pikir gw ga akan ketemu ma si Indra lagi, tapi ternyata ga. Alhasil kita janjian ngopi bareng di Citos jam 12 after lunch. Karena daerah Cilandak deket banget ma rumah Sahid, jadinya dengan dadakan, gw langsung nelpon dia buat join. Ga nyangka juga, dia langsung say yes. Setelah ngumpul, pertama-pertamanya Cuma ngomong masa2 sekolah dulu, saling ngejek-ngejekkan, nyindir-nyindir, ampe buka aib...hahaha...

Obrolan lanjut ke masalah kuliah, satu hal yang sekarang udah kita jalanin 2 tahun secara masing-masing tanpa terasa waktu. Awalnya si Gogon yang banyak cerita kalo dia itu sering banget praktikum ampe mabok dan kudu bikin tugas pendahuluan dan setelah itu buat laporannya. Piuh...gw bersyukur juga sih udah ga urusan ma yang kayak gitu...udah lewat di kuliah kimia dan fisika pas jamannya TPB. Dan ternyata ada empat hewan yang sering dijadikan kelinci percobaan di lab para ilmuwan. Karena dia belajar tentang biologi dan kaitannya dengan kimia, banyak yang lari ke industri makanan dan kosmetik. Produk-produk tersebut sebelum diujikan pada manusia, sebelumnya dites dulu sama salah satu binatang itu, tergantung sifat bahan apa yang diujikan. Binatangnya yaitu babi, tikus, monyet, dan kodok. Babi karena struktur organ pencernaannya mirip dengan manusia, tikus karena susunan kulitnya paling mirip manusia, dan yang dua lagi gw lupa...

Abis itu giliran Sahid yang kuliah di Hukum UI buat cerita tentang jurusannya. Sebenernya gw ga asing ma hukum karena kakak gw juga sarjana hukum. Tapi apa yang gw dapet dari Sahid sama sekali ga pernah dikasih tau ma kakak gw sebelumnya. Dia cerita bahwa kontribusi kita yang paling kecil sebagai warga negara yang baik harus menaati peraturan lalu lintas, misalnya. Berapa sering kita selalu terlintas untuk menyogok polisi di jalanan yang nilang kita. Malu juga sih gw, karena gw pernah nyuap polisi 3 kali karena nerobos lampu merah, temen gw yang boncengan ga pake helm, dan ngelawan arus buat muter. Semuanya di daerah lampu merah Simpang Dago, Bandung. Padahal gw sebelumnya belom pernah ditilang. Terus katanya lebih baik kita terima aja surat tilangnya dan nyelesain di pengadilan, kalaupun didenda, uang kita akan masuk ke kantong negara yang lebih terjamin untuk dipergunakan dengan bener ketimbang masuk ke kantong pak polisi di jalan. Terakhir pas gw ketilang di jalan sudirman deket Blok M, gw berusaha buat ngikutin saran Sahid, ga akan nyuap si pak polisi, walaupun pas gw tanya apakah bisa diselesaikan di situ, pak pol masang tarif goban. Wah, sedeng sih untuk skala sogokan mobil,,hehehe,,karena emang pelanggarannya ga berat kok. Jadinya gw mutusin buat nerima surat tilang itu, ada perasaan lega juga karena gw telah melakukan hal yang benar dengan tidak melecehkan profesi polisi tsb yang meskipun dirinya sendiri minta untuk dilecehkan. Trus dia juga cerita bahwa ada sebuah RUU yang sedang digodok di DPR perihal kewenangan suatu perusahaan yang bisa punya hak milik terhadap lahan milik rakyat yang statusnya disita pengadilan dengan membayar sejumlah biaya,dll, kalo ga salah pasal 35 tahun 2005 gitu?ga tahu jg, lupa.

Trus giliran Indra yang cerita tentang ilmu teknik sipil. Mulai dari ngebahas suatu pondasi rumah, jembatan, terowongan, sampe masalah metode sosro bahu dan ceker ayam dalam kontruksi jalan layang. Sosro bahu artinya pembangunan mulai dari tiang-tiang pancangnya yang kemudian coran jalan akan ditaruh di atasnya buat nyambungin antar pancang tsb. Dan ceker ayam dimana untuk lebih kokoh, suatu bangunan kudu punya pondasi yang meluas ke banyak arah agar tidak roboh. Kalo tahan gempa pake peredam getaran,dll. Dan bentuk aplikasinya di lapangan.

Pas liat jam udah ga terasa aja jam 5 sore, padahal kita cuma mesen segelas kopi tiap orang. Langsung terlintas di pikiran gw, alhamdulillah gw punya temen yang mengerti bidang lain yang gw belum ketahui. Bahwa di meja tersebut duduk empat orang mahasiswa yang berasal dari empat PTN yang favorit di negeri ini. Sahid dari Hukum UI, Indra dari Sipil UGM, Wisnu dari Biokimia IPB, dan gw sendiri dari Planologi ITB. Bahwa sepertinya ada yang mengatur semua itu...Allah...Subhanallah...Dari situ gw tersadar bahwa sangat penting untuk punya banyak teman. Karena pada akhirnya cuma temen yang bisa ngehargai kita dan nerima kita apa adanya setelah keluarga.

Forum Silaturahmi...

Kegiatan rutin ini sebenarnya diawali tahun lalu sejak FKHD (Forum Ketua Himpunan Departemen) vakum. Tetapi para ketua himpunan waktu itu masih membutuhkan adanya forum yang memberikan informasi mengenai keadaan aktual kampus, khususnya yang dialami oleh himpunan. Itulah tujuan dibentuknya forum ini dan tidak ada unsur legal atau ketetapan, hanya sebuah forum informal tetapi sarat isi. Sekarang, lebih diwarnai oleh banyaknya ketua himpunan baru yang rata-rata sudah ikut sebelumnya atau baru bergabung. Tempat dan pihak penyelenggara juga bergantian antarhimpunan dan unit. Satu hal yang pasti hanya waktu kegiatannya yaitu tiap selasa per dua minggu. pada hari Selasa, 25 April 2006 lalu bertempat di Selasar Planologi dengan jumlah peserta yang hadir cukup banyak dibandingkan sebelumnya. Diantara himpunan yang dihadiri ketuanya adalah HMIF, PATRA, HMGM, HME, HMTL, dll. Sedangkan diantara ketua unit yang datang ada dari KMPA, LFM, UKSU, MUSI, dll. Serta ada juga Presiden KM terpilih, Dwi.

Pembahasan yang ada di dalamnya sangat terbuka, terutama berkaitan dengan iklim kemahasiswaan kampus. Forum dibuka oleh penyelenggara, Ketua HMP, Apri dengan topik pembahasan adanya surat peringatan dari Biro Kema-hasiswaan (Dulunya bernama LPKM) bertandatangan Pak Djaji (maaf kalau salah ketik) kepada Ka.KMPA, Ka.PSIK, dan Ketua Panitia acara Peringatan Hari Bumi. Ini berkaitan dengan Konser musik penutup acara sepekan lalu yang diadakan di Plaza Widya yang mengganggu dua acara yang sedang dilakukan oleh LPKM di kedua wing CC. Seketika itu juga beliau menutup acara itu di pertengahan. Tentunya keluar surat ini menuai kebingungan dan tidak terima dari organisasi yang dikenai sanksi tersebut. Karena menurut mereka, Pak Widyo sebagai WRM sudah menyetujuinya dengan lisan. Sekarang sedang tahap klarifikasi atas terbitnya surat tersebut. Kondisi ini menandakan satu hal bahwa komunikasi di antara petinggi dan atau pegawai ITB sendiri masih belum bagus dan sinkron. Sedangkan mereka mengumbar-umbar pada kita, kenapa mahasiswa sulit sekali diwakili suaranya oleh satu orang presiden mahasiswa. Berkaitan dengan hal ini, LSS merupakan unit yang selalu didukung oleh beliau-beliau karena punya reputasi yang cukup baik, walaupun tidak selalu di’anak emas’kan. Pelajaran yang dapat dipetik dari kasus ini bahwa kita harus yakin dulu mendapat ijin kegiatan secara tertulis oleh Biro Kemahasiswaan jika skalanya besar.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah perlunya untuk menginisiasi kembali BKSK (Badan Koordinasi Satuan Kegiatan) yang berisi perwakilan unit-unit di ITB, karena itu merupakan salah satu syarat wajib kita untuk menjalan-kan fungsi kemahasiswaan yang ideal, kata ketua UKSU yang sedang menggodok AD/ART UKSU untuk disesuaikan dengan konsepsi kemahasiswaan KM ITB.

Topik pembicaraan pun beralih pada adanya stereotipe negatif dan pengamanan ganda dari rektorat pada himpunan atau unit yang selama ini punya ‘cap buruk’ dengan berbagai sistem kaderisasinya. Hal ini sangat membatasi ruang gerak mereka untuk berkegiatan. Tetapi dapat disikapi dengan komunikasi yang tepat dengan pihak birokrasi dengan cara mengundang mereka dalam acara tersebut sehingga melihat sendiri baik atau buruknya sebelum dilarang. Tentunya dengan transparansi dari himpunan/unit tersebut.

Adanya ketidakberdayaan himpunan/unit ini untuk beradu pendapat dengan birokrasi jika dituduh salah, akhirnya memunculkan pandangan dengan cara apa kita bisa ‘melawan’nya, karena sepertinya mereka mempunyai kekuasaan yang diluar kapabilitas kita, karena mereka merasa berhak mengatur semua kegiatan kita. KM ITB sebagai lembaga pun sepertinya tidak cukup kuat untuk itu, pers mahasiswa juga terkesan dikendalikan oleh mereka, memang sepertinya ITB dipenuhi oleh orang-orang jahat terpinter se-ITB, ucap salah satu peserta forum. Sebenarnya yang ngelawan adalah kita semua, mahasiswa yang menyuarakan hak-haknya seperti transparansi keuangan yang masuk ke ITB, berkegiatan, dan berkaderisasi. Itu bisa dicapai asal kita YAKIN. Kalau perlu kita sebagai kaum ilmiah, lakukan saja polling pada seluruh mahasiswa mengenai kinerja rektorat yang semakin lama asyik menajamkan taringnya. Intinya kita perlu melangkah bersama (kok jadi kayak kampanye SBY?) dengan Kabinet KM sebagai jembatan semua HMJ & UKM. Yah, minimal brand image yang negatif tadi menjadi leih baik. (Tandj)

GAJAH-GAJAH YANG KEHILANGAN GADINGNYA....

Ketika berjalan di dalam kampus pada tahun ajaran kali ini, sangat terasa perbedaan ‘hawa’ kampus dengan tahun-tahun sebelumnya. Tak terdengar lagi suara-suara ‘gajah-gajah kecil’ mengumandangkan lagu perjuangan, tak terdengar lagi semangat berkobar, tak terlihat lagi derap langkah persatuan di jalan2 kampus, CC bagai kuburan, tak terdengar lagi Salam Ganesha dari adik-adik kita angkatan 2005 yang berapi-api karena OSKMnya cemen. Jika ada survey yang menanyakan berapa persen dari angkatan 2005 (± 3000 orang) yang hapal dan benar dalam melakukan salam tersebut, saya ragu besarnya akan lebih dari 40%.

Akankah kita yang mulai tumbuh menjadi ‘gajah dewasa’ ini tetap membiarkan hal seperti ini terjadi? Apakah mulut-mulut kita terkunci oleh selembar surat resmi dari rektorat? Tentu jawabannya sangat majemuk tergantung dari persepsi setiap orang. Bagi sebagian besar dari kita mungkin tidak peduli dan terjepit oleh tuntutan lulus tepat waktu dan memutuskan untuk tidak mengurusi dunia kemahasiswaan, atau golongan minoritas lain yang masih melakukan aktivitasnya secara sembunyi-sembunyi.

Kata seorang teman saya, jaman sudah berubah, untuk itu kita juga harus berubah kalau tidak digerus oleh jaman. Ok, saya sangat setuju dengan pernyataan itu, tetapi yang perlu diperhatikan adalah apakah generasi selanjutnya masih bisa merasakan JIWA dan beratnya TANGGUNG JAWAB yang dibebankan kepada seniornya. Kondisi ini tidak terlepas dari metode yang digunakan dalam suatu kegiatan yang kata mereka kaderisasi atau orientasi studi. Ketidaksiapan untuk berubah saat ini merupakan kendala terbesar bagi himpunan. Apalagi tahun ini, dengan formasi kekuatan rektorat yang sudah matang, himpunan banyak yang ‘keok’ sehingga ada beberapa yang tidak bermain sesuai peraturan. Tentunya hal seperti ini dapat menjadi bumerang bagi tahun berikutnya. Karena setiap himpunan mendefinisikan arti kaderisasi, ospek, dan senioritas berbeda-beda. Dengan permasalahan yang rumit di setiap himpunan, akankah kita akan tergabung lagi di kemahasiswaan terpusat? Kalaupun iya, harusnya sejak ada surat edaran dilarang melakukan orientasi studi, teman2 kita di samping Tokema itu harus LANGSUNG bergerak, sebelum menjadi kompleks permasalahannya dikarenakan jadwal tahunan tiap himpunan beda. Sialnya ketika nasi sudah jadi bubur, memang penyesalan selalu datang di akhir, tapi harusnya ada langkah KONKRET yang dilakukan sebelum himpunan kecewa dan putus asa karena tidak tahu harus melakukan apa. Sebelum ‘gajah-gajah’ itu capek dan meletakkan gadingnya karena kampus ini sudah MATI dan berisi robot yang melakukan riset2 aneh.

PENGEMBANGAN KOMUNITAS DI DESA PESISIR ACEH PASCA TSUNAMI

Perencanaan di Indonesia saat ini sedang mengalami dinamisasi dalam hal proses pelibatan masyarakat. Selama hampir tiga dekade, pemerintah menggunakan sistem sentralisasi dengan ciri perencanaan yang dikendalikan oleh pemerintahan negara (pusat). Setelah era reformasi bergulir pada 1998, pemerintah daerah sekarang telah memiliki otonomi dalam menyelenggarakan pembangunan. Pemerintahan yang berbasiskan syariat Islam pun mendapat tempatnya di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Adanya bencana tsunami pada Desember 2004 telah meluluhlantakkan sistem kehidupan negeri Serambi Mekkah itu. Perekonomian Banda Aceh mati, kota-kota dan desa-desa di sepanjang pesisir pantai barat dan timur seakan-akan lenyap dihapus gelombang air. Sistem pemerintahan desa-desa pesisir banyak yang rusak dan kehidupan masyarakat menjadi tak terurus. Bantuan dari dalam dan luar negeri kemudian berdatangan. Salah satu program yang diluncurkan BRR (Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias) adalah perbaikan sistem kelembagaan desa. Instansi yang mengeksekusinya adalah NGO atau lembaga donor dari luar negeri (PCI Indonesia, GenAssist, AIPRD, dll).

Program tersebut merupakan salah satu bentuk pengembangan komunitas yang dijalankan untuk mencoba membangun kembali desa-desa yang hancur secara fisik maupun mental. Menurut catatan kuliah PL3201 Pengembangan Komunitas, pengembangan komunitas adalah keterlibatan masyarakat dalam isu yang mempengaruhi kehidupannya, termasuk didalamnya metode bagi individu untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, dan motivasi, mengidentifikasi gangguan bersama dan menyelesaikannya secara bersama (www.bathnes.gov.uk). Peran NGO sebagai pelaku eksternal yang terlibat dalam pengembangan masyarakat adalah berupaya untuk menyatukan berbagai perbedaan yang ada dalam suatu komunitas. Karena sebuah komunitas pada umumnya terbentuk dari bagian-bagian yang terintegrasi dan kelompok keinginan yang tertutup pada hubungan kompetitif (Smith 1989).

Dalam hal ini, program perbaikan sistem kelembagaan desa dilakukan untuk membantu masyarakat agar membentuk kembali pemerintahannya, seperti menunjuk Geuchik ( Bahasa Aceh: kepala desa–red. ) baru bila yang sebelumnya meninggal, dan membentuk perangkat desa lainnya. Secara teknis, NGO akan mendampingi warga melalui seorang Fasilitator Desa (FD) yang memberikan arahan dan wawasan kelembagaan desa kepada warga. Selain itu juga bertujuan untuk mempersiapkan perangkat tersebut agar dapat berfungsi sebagai sumber komunikasi warga desa kepada orang luar. Mengingat tahun 2006 ini akan banyak terjadi pembangunan pada skala desa yang dilakukan oleh lembaga donor maupun BRR. Pencapaian yang diharapkan dari perangkat desa ini adalah dapat menjadi perwakilan warga yang mengajak dan mengkomunikasikan aspirasi warga terhadap pihak luar.

Satu hal penting yang menjadi saran dalam proses pengembangan komunitas ini ialah harus ditanamkan betul kemandirian perangkat desa yang dapat mendampingi warga untuk memantau kinerja pembangunan yang akan terjadi di desa mereka. Contohnya pada peristiwa yang terjadi di Desa Pasie, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, pada bulan Juli 2006 lalu, sebuah NGO mendapatkan kontrak pembangunan jalan propinsi dengan rute Banda Aceh-Meulaboh, tetapi dalam rencana cetak birunya, jalur yang dilewati akan mengambil lahan kosong yang direncanakan akan dibangun perumahan. Dalam kasus ini, Geuchik dan perangkatnya harus bisa menginformasi-kannya kepada warga dan berfungsi sebagai pembela warga untuk menghindari pembangunan jalan tersebut agar tidak melewati lahan perumahan. Atau bisa juga dengan mempertimbangkan untuk memindahkan peletakan rencana rumah ke lahan lain yang tidak dilewati oleh jalur jalan tersebut. Setelah permasalahan itu selesai, Geuchik harus selalu mengontrol NGO tersebut pada semua tahap sampai jalan selesai dibangun dan tidak berdampak pada pembangunan rumah. Karena pendampingan oleh FD tidak lama, hanya sekitar 4 bulan saja, maka perangkat desa bersama warga harus mampu mengawasi pelaksanaan program-program pembangunan yang akan dilaksanakan di Desa Pasie.

Peristiwa yang terjadi di desa-desa pesisir Aceh ini dapat dijadikan contoh bagi propinsi lain dalam hal melibatkan peran serta masyarakat dalam perencanaan melalui pengembangan komunitasnya. Sebagai bagian yang tak terlepaskan dalam perencanaan yang berasal dari masyarakat (bottom-up), pendidikan kemandirian bagi perangkat kelembagaan desa diharapkan dapat meminimalisasi konflik yang terjadi akibat keputusan perencanaan yang seringkali sepihak oleh pemerintah daerah. Jika setiap daerah berlomba untuk menjadi yang terbaik, keputusan pembangunan yang mengefektifkan pencerdasan masyarakat melalui pemerintah desa dapat menjadi angin segar bagi wajah baru perencanaan di Indonesia.

Buat Apa Ada Senator KM ITB??

Dalam waktu sekitar dua minggu ini, HMP sedang melakukan pemilihan senator baru untuk periode 2006-2007. Dan para calon sering banget kita liat berkoar-koar mengkampanyekan visi & misinya. Reaksi warga HMP dalam menyikapi ini pun cukup beragam, ada yang antusias menggali kapabilitas calon, ada yang netral saja dan cenderung nrimo, bahkan ada juga yang cuek serta tidak peduli. Terlepas dari tanggapan-tanggapan tersebut, sebenarnya buat apa ada senator? Fungsinya apa sih? Serta kenapa HMP harus mengirim wakilnya di sana?(red. Kongres KM ITB -kemahasiswaan terpusat).

Jika ditilik menurut hukumnya, berdasarkan Anggaran Dasar HMP BAB V Pasal 22 mengenai hubungan dengan Keluarga Mahasiswa ITB disebutkan bahwa ‘HMP Pangripta Loka ITB dapat mengirimkan wakilnya dalam Kongres KM ITB’ yang mekanisme pemilihannya diatur dalam Anggaran Rumah Tangga. Wakil ini (senator) akan berfungsi sebagai perwakilan HMP di Kongres KM ITB yang salah satu tugasnya menurut Konsepsi KM ITB 2001 yaitu untuk mengawasi pelaksanaan program dan menilai kinerja Kabinet KM ITB yang yang dipimpin Presiden. Dalam melaksanakan tugasnya itu, para senator perlu menarik aspirasi/pendapat dari himpunannya masing-masing.

Cukup sering kita mendengar selentingan mahasiswa pada umumnya mengenai KM ITB yang tidak konkret kinerjanya, cenderung eksklusif, terlalu idealis, dll. Kondisi ini didukung oleh Polling yang dilakukan HIMATIKA tahun 2005 yang bernada sama. Satu hal yang harus dimengerti oleh kita sebagai mahasiswa ITB adalah yang dimaksud dengan KM disini yaitu semua elemen kemahasiswaan, termasuk di dalamnya Kabinet, Kongres, HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan), dan Unit. Dengan kedaulatan tertinggi dipegang oleh seluruh mahasiswa ITB.

Oleh karenanya Presiden KM dengan kabinetmya mempunyai tantangan berat untuk memperbaiki image kemahasiswaan terpusat karena persentase mahasiswa lebih banyak yang memilih untuk masuk HMJ atau Unit. Dalam pekerjaannya sebagai fungsi eksekutif, kabinet diawasi dan diarahkan oleh Kongres KM ITB sebagai perwakilan HMJ yang berfungsi legislatif. Untuk itu sudah sebaiknya dan seharusnyalah setiap himpunan mengirimkan senator agar keinginan mahasiswa yang ada pada tingkat jurusan/program studi tetap sampai ke presiden. Mengenai perbedaan kualitas senator yang ada di Kongres seperti ada yang aspiratif dan tidak, bergantung pada tiap himpunan yang berwenang.

Kekuatan hukum seorang senator berada di tangan pemilihnya yang dapat menyampaikan aspirasi, kritikan, cacian, atau apapun secara langsung atau tidak langsung, untuk kemudian diteruskan dalam kajian pengambilan keputusan Kongres KM ITB yang berdampak pada kemahasiswaan ITB secara umum. Jadi, gunakan hak suara Anda untuk memilih calon-calon senator yang berkompeten, karena setiap suara Anda adalah legalitas si senator, karena setiap suara Anda berkontribusi menjadikan KM ITB yang lebih baik. Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater, Merdeka!!

Friday, March 9, 2007

hangout with the kojek's...

ceritanya nih, abis gw bareng tmen2 gw dari BEC, kita makan2 di independence chicken...ad apri,kokoh,herry,ajath,ghulam,ray....eh pas disana ketemu ikra...jadi dia nraktir kita2 (tapi gw ga dpt,krn udh byr...hiks...hiks...).

tiba2..dua orang cewe about 25 dateng make mobil swift-nya..lalu berjalan ke arah warung mendekati tempat kami makan2.dari jauh terlihat bergoyang pebuh irama...is there any part of a chick body u first looked at when it is abnormal in size, then u know what I mean...

walaupun makanan udh abis..kami rela nungguin ampe tuh cewek balik...para jomblowan yg gila tapi ga realistis ini pun pada ngences kayak liat mangsa...
tingkah pun semakin gila,apa mau dikata....gairah dan nafsu mengalahkan akal....maka.....aaahhh....mereka pergi dengan membawa swift-nya...

hehehehe.....